Laman

Selasa, 11 September 2018

Konnichiwa Nippon

Halo halo. Konichiwa
Haik, watashi no namaewa nabilla desu.
Jadi, kali ini aku mau cerita perjalanan dari bulan maret kalau ga salah buat nyoba daftar exchange program ke jepang, yaitu Universitas Yamagata, sama seperti sebelumnya yang ke Russia, jadi daftar ini ya iseng-iseng atau coba-coba modal nekat, dan didorong oleh kakak kakak dan teman yang sudah ikutan program terlebih dahulu. Jadi ini pertama kalinya lab ku “buka” buat exchange, jadi aku orang pertama yang exchange di lab ini, aku di lab Forest Biodiversity Conservation & wildlife Management dan di supervise oleh Enari Sensei.

Jadi pertama yang dilakukan adalah mengumpulkan syarat, syaratnya ga susah, Cuma ada 4 without toefl,  dadi tak gaske wae ya to? Cuma ngisi form gitu, cv, surat rekomendasi sama transkrip, as simple as that. Lalu setelah itu dikasih jadwal buat wawancara. Lalu pengumuman lewat email, itu pas bulan puasa pengumumannya heuheue.

Setelah pengumuman, langsung disuruh melengkapi berkas, nah iki sing rodo riweuh, karena disuruh check up, terus ngisi form macem macem deh, in English of course. Lalu dikirim ada yang melalui pos ke Jepang dan ada yang via email. Setelah itu menunggu CoE atau certificate of eligibility untuk ngurus visa di Jakarta, membutuhkan biaya sekitar 525 ribu kalau ga salah. Dan mereka ngirim CoE mepet sekali dan ada drama di OIA UGM haha. Jadi aku udah beli tiket ke Jakarta tapi coe nya belum dateng, yang lain sampai ngebatalin tiket dan mengganti di lain hari, tapi pas itu aku udah di stasiun, yowis lah budal ae.

Setelah pembuatan visa yang membutuhkan waktu lima hari kerja, akhirnya visa jadi juga dan aku ambil di Jakarta. Oiya sebelumnya udah dikasih pengumuman dikasih tau suruh berangkat kapan, aku langsung hunting tiket dapetlah air asia dengan harga 1.9 juta tanpa bagasi dan makan yaa.

Cuslah kita ke jepang tanggal 2 september 2018. Transit di Malaysia tiga jam, dan sampai di jepang jam 22:30 waktu lokal. Terus masuk ke imigrasi untuk pembuatan kartu residen, karna kita bakal stay di jepang selama setahun jadi butuh kartu residen untuk keperluan macem-macem, kaya bikin akun bank, asuransi dan lain-lainnnya.

perjalanan ke jepang
Tanggal 3 pagi kita caw ke kota kecil kita naik ANA yang membutuhkan waktu satu jam dari Tokyo ke shonai. Dan kita dijemput naik bis kampus, lalu ke toko seven eleven buat beli makan siang soalnya lagi buru-buru buat keliling nganterin anak-anak kerumah masing-masing. Kami ber15 dibagi menjadi 3 rumah, ada babacho, daihoji sama higashi. Kebetulan aku dapet yang di babacho, rumah paling mahal heuhue.
di bandara Shonai

Setelah itu saya gumun dengan rumahnya, maklum villager wkwkw, biasa kos 2 juta setahun eh ini sebulan 1.5 juta heuheu Hamdallah. Tapi yo nganu, nabunge dadi sitik. Lalu setelah beres-beres dan beristirahat, besoknya kami ke kampus, ngampuss boskuu. Karena dari jauh-jauh hari udah janjian sama sensei ketemu jam 9 pagi karena doi mau melakukan bisnis trip ke jepang selatan selama seminggu. Untung aku on-time, he he he first impression kudu bagus dong. Setelah ketemu sensei, diajak muter lab dan dikenalin dengan watashino tomodachi,  pas masuk lab dikasih meja kerja sama kursi huheuhe mantuulss bosku. Tapi di lab tidak ada wi-fi, aku sedih. 

kantong plastik untuk memisahkan sampah yang dibuang sesuai jadwal


Dan sampai aku nulis ini udah hari ke empat, belum ada seminggu di jepang. Masih menyesuaikan untuk menghindari makanan yang bergelimang babi dan alkohol, menyesuaikan tradisi buang sampah yang harus dipisah antara plastik, tisu, botol plastic, kaleng dan lain lainnya, serta menyesuaikan bahasa yang sama sekali aku ga pernah belajar. Kerennya saat aku baru sampai di lab, mereka langsung nanyain aku ga boleh makan apa dan minum apa, dan dikirimin kanji, hiragana serta katakana dari babi, sake, alkohol, biar ga salah beli makanan heuhueue

Segitu dulu, akan ku sambung kapan-kapan.

mbuh kapane, pokoe kapan-kapan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar