Laman

Sabtu, 16 November 2019

Sayonara Nippon

Sama seperti judulnya "Sayonara Nippon" さよならにっぽん, kali ini saya akan bercerita tentang perpisahan dengan Jepang. Di awal-awal postingan mengenai pertukaran pelajar di Jepang, saya sudah ceritakan bahwa program ini hanya untuk satu tahun atau 12 bulan, dan agustus tahun 2019 adalah bulan terakhir saya berada di Jepang. 
Japanese Forest when Autumn

autumn is my favorite season
Setelah satu tahun tinggal di Jepang, banyak sekali pengalaman berharga yang saya dapatkan, mulai dari mendapat ilmu baru mengenai dunia per-hewan-an, bertemu manusia-manusia baru, bekerja paruh waktu, menjadi volunteer suatu acara yang besar yaitu Akagawa Hanabi, menjadi pengisi acara dengan membawa budaya Indonesia dan berkeliling di berbagai kota di Jepang.

Rabu, 15 Mei 2019

Spring, musim yang bersemi

Bulan april, bulan dimana salju mulai mencair namun tak jarang masih turun, tidak bisa ditebak.
Sebagian kota di Jepang bagian selatan lebih dulu menyambut kedatangan ikon dimusim semi, apalagi kalau bukan bunga sakura.

Bunga sakura

Kamis, 14 Februari 2019

Menengok Saudara di Jigokudani Snow Monkey Park

Konniciwa,,,,,

Salju masih menyelimuti Tsuruoka, pukul 6:50 kami (saya, cici dan ama) meninggalkan kos-kosan Apartemen untuk menuju stasiun Tsuruoka untuk pergi ke Niigata, kami membutuhkan penyegaran setelah jenuh berkutat dengan kegiatan kampus. heleh padahal yo ra ngopo ngopo. kami pergi dengan kereta pukul 7:40, Jepang sangat terkenal dengan ketepatan waktunya, sehingga kereta yang kami naiki meluncur tepat pukul 7:40. melakukan transit di stasiun Murakami untuk berganti kereta. setelah puluhan menit berlalu akhirnya kami sampai di Niigata. Kotanya lebih besar dan ramai dibanding kota tempat kami tinggal. 

sesampai di Niigata kami pergi ke restoran Tabehodai (All you can eat) yang sebenarnya kami bisa menaiki bus untuk sampai sana. namun kami tidak melihat bus no 22 wkwkkwk dan akhirnya kami jalan sampai tabehodai selama 30 menit kurang lebih. dan untungnya makanan disana worth it. setelah capek jalan dan terisi full oleh makanan lezat kami pergi ke museum dengan bus. saat googling museum tersebut hanya membayar 120 yen, ternyata pas saat sampai sana kita harus membayar 1000 yen. wadaw, karena kami sobat misqueen, kami akhirnya mengurungkan niat kami wkwkkwk. 
view saat mau masuk ke museum

view saat keluar museum
 setelah selesai, kami pergi ke stasiun niigata dengan taxi, karena setelah dihitung dan dibagi dengan kami, harganya ga beda jauh sama naik bus wkkw. eh namanya cewe pas dijalan ngeliat uniqlo dan akhirnya kita mlipir kesana, duit lagi duit lagi.  setelah selesai belanja kami balik lagi ke stasiun untuk membeli tiket, namun hanya mereka yang kembali ke Tsuruoka, kalau saya tetap gas ke Nagano untuk mengunjungi saudara monyet di Jigokudani snow monkey park bersama bakum. kami bertemu di stasiun Niigata dan melanjutkan perjalanan dengan bus jam 18:00, dengan waktu 3 jam 30 menit (kalau ga salah) kita sampai di stasiun Nagano. 
stasiun Nagano

Kamis, 31 Januari 2019

hampir 6 Bulan di Jepang

Tulisan pertama di tahun 2019.

Sudah hampir 6 (enam) bulan tingaal di Jepang sejak tiba tanggal 3 september tahun 2018. 
Banyak pengalaman yang sudah didapat, beberapa kota yang sudah disinggahi. masih banyak tempat yang belum dikunjungi.

Untuk pertama kalinya merasakan 2 musim yang berbeda, musim gugur dan musim salju atau musim dingin. pertama kalinya melihat daun berubah warna dan hutan menjadi warna-warni. pertama kalinya bermain salju, membuat snowman. dan masih ada dua musim yang akan aku rasakan di Jepang. aku akan melihat indahnya bunga sakura bermekaran saat spring dan akan merasakan panasnya matahari yang menyengat saat summer. memang, pertama kali adalah saat yang sangat menyenangkan, membuat sangat excited. 

Selasa, 11 September 2018

Konnichiwa Nippon

Halo halo. Konichiwa
Haik, watashi no namaewa nabilla desu.
Jadi, kali ini aku mau cerita perjalanan dari bulan maret kalau ga salah buat nyoba daftar exchange program ke jepang, yaitu Universitas Yamagata, sama seperti sebelumnya yang ke Russia, jadi daftar ini ya iseng-iseng atau coba-coba modal nekat, dan didorong oleh kakak kakak dan teman yang sudah ikutan program terlebih dahulu. Jadi ini pertama kalinya lab ku “buka” buat exchange, jadi aku orang pertama yang exchange di lab ini, aku di lab Forest Biodiversity Conservation & wildlife Management dan di supervise oleh Enari Sensei.

Jadi pertama yang dilakukan adalah mengumpulkan syarat, syaratnya ga susah, Cuma ada 4 without toefl,  dadi tak gaske wae ya to? Cuma ngisi form gitu, cv, surat rekomendasi sama transkrip, as simple as that. Lalu setelah itu dikasih jadwal buat wawancara. Lalu pengumuman lewat email, itu pas bulan puasa pengumumannya heuheue.

Setelah pengumuman, langsung disuruh melengkapi berkas, nah iki sing rodo riweuh, karena disuruh check up, terus ngisi form macem macem deh, in English of course. Lalu dikirim ada yang melalui pos ke Jepang dan ada yang via email. Setelah itu menunggu CoE atau certificate of eligibility untuk ngurus visa di Jakarta, membutuhkan biaya sekitar 525 ribu kalau ga salah. Dan mereka ngirim CoE mepet sekali dan ada drama di OIA UGM haha. Jadi aku udah beli tiket ke Jakarta tapi coe nya belum dateng, yang lain sampai ngebatalin tiket dan mengganti di lain hari, tapi pas itu aku udah di stasiun, yowis lah budal ae.

Setelah pembuatan visa yang membutuhkan waktu lima hari kerja, akhirnya visa jadi juga dan aku ambil di Jakarta. Oiya sebelumnya udah dikasih pengumuman dikasih tau suruh berangkat kapan, aku langsung hunting tiket dapetlah air asia dengan harga 1.9 juta tanpa bagasi dan makan yaa.

Senin, 18 September 2017

WHEN YOUR DREAM COMES TRUE !!

Sudah lama ngga ngeblog, jadi kali ini saya mau cerita tentang kekuatan mimpi, halaaah, gaya-gayaan ngomongin mimpi wkwkw.


Nabilla ngapain ke Russia?

Baru-baru ini saya dari Russia, salah satu negara yang pengen banget banget banget saya kunjungin entah buat main, atau buat belajar dan mimpi itu sudah ada dari akhir SMA atau awal masuk kuliah tapi kadang, saya mah sukanya pesimis, gimana engga? Bahasa inggris ambyar, ilmu cetek buat mikir aja susah haha tapi mimpi itu tetap ada. Dari semester satu saya suka searching tentang Russia, dan di google nongol lah tentang perlombaan karya tulis gitu pake bahasa inggris atau bahasa Russia namanya International Junior Forest Contest, itu agenda tahunan yang rutin diadakan sama Federal Forestry Agency Russia. Tapi dari situ saya Cuma bisa bilang dalam hati “walah, bahasa inggris wae aku raiso, ya kali bisa ikutan itu”. Semester semakin tua hingga akhirnya duduk di semester lima, dua kawan saya bernama Andreas dan Andhika berangkat ke Russia, disitu saya iri banget, jelaaas aku yang mau kesana, ko mereka yang berangkat. Dan disitu aku mau berangkat tahun depannya.

Semester lima itu ada kuliah namanya riset dan manajemen satwa liar dan salah satu dosennya pernah membimbing dan akhirnya berangkat juga ke Russia tahun 2014, dan di akhir desember saya menemui beliau dan meminta beliau untuk jadi pembimbing kami, saat itu saya mengajak Rico untuk menemani saya menggarap project itu, karena saya kepikiran untuk meneliti herpetoufauna, namun beliau menyarankan tentang burung yang ada di Paliyan, ok kami SIKAT AJA DEH.

Rabu, 15 Maret 2017

PERDAGANGAN SATWA LIAR


Perdagangan satwa liar tidak hanya berupa satwa liar yang hidup namun juga bisa produk turunannya atau anggota tubuh dari satwa, seperti telur penyu, gading gajah, taring harimau, kumis harimau, daging, kulit, bulu dan lain-lain. Faktor terjadinya perdagangan satwa liar dapat terkait masalah ekonomi, pemenuhan protein, untuk koleksi serta hanya sekedar hobi bahkan sebagai pemuas seksualitas (dijadikan objek). Perdagangan satwa liar dapat terjadi Karena adanya permintaan, adanya kesempatan dan hukum yang lemah. Permintaan masyarakat terhadap satwa liar akan berpengaruh pada terjadinya perdagangan, apabila tidak ada permintaan maka dagangan tidak akan laku dan penjual jadi tidak berdagang, lalu kesempatan, apabila ruang gerak penjual semakin sempit dan tidak ada kesempatan melakukan perdagangan maka perdagangan dapat diminimalisir dan yang terakhir yaitu hukum yang lemah, di Indonesia penegakan hukum belum tegas terkait perdagangan satwa liar Karena kurangnya personel dan alasan lainnya. Sejarah perdagangan satwa liar di Indonesia bermula pada kurang lebih abad 10 sebelum masehi ketika dinasti Sung yang berasal dari Kanton dan Funkien (Cina) datang kekota Tse-Tsun di Jawah Timur (sekarang bernama Tuban dan Gersik). Tujuan dari dinasti Sung ini untuk melakukan pertukaran dengan penduduk pribumi. pertukaran ini berupa kramik, obat-obatan, sarang burung walet dan tempurung kura-kura.dan pada tahun 1800an menurut Supriatna sudah mulai marak terjadi komersialisasi untuk digunakan pada industry fashion perdagangan terus meningkat pada tahun 1900an mulai dari untuk di konsumsi maupun mitos-mitos kepercayaan.

Pada awalnya perdagangan satwa liar dilakukan di pasar-pasar hewan yang melakukan perdagangan secara langsung atau tradisional, para pembeli dapat secara langsung melihat-lihat satwa yang ingin dibeli, namun dengan berkembangnya jaman dan teknologi maka penjual satwa memanfaatkannya untuk berdagang secara online seperti dari facebook, Instagram, BBM, whatsapp, line dan media social pembelanjaan online lainnya, mereka memilih pasar online Karena dinilai lebih aman dan mudah, penjual biasanya tidak mau melakukan pertukaran/perdagangan dengan cara COD (cash on delivery) tetapi bisa dipaketkan dan memakai ojek online. Para pedagang tidak mau melakukan COD Karena takut apabila yang membeli adalah aparat yang ingin menangkapnya.

Senin, 05 Desember 2016

Penelitian Bersama (Gunung Ungaran)

Setelah melakukan berbagai macam kegiatan, mulai dari pematerian hingga pengamatan lapangan, akhirnya KP3 FORESTATION FKT UGM mengadakan Penelitian Bersama atau biasa disebut PB. Kali ini PB dilakukan oleh berbagai elemen KP3 dari KP3 Primata, KP3 Burung, KP3 Herpetofauna, KP3 Wetland dan KP3 Ekowisata. Untuk KP3 Primata sendiri dibagi menjadi dua team, team pertama ada mba Tungga, Mas Marcel, Mas Riza dan Saya ( Nabilla), sedangkan untuk team kedua ada Hilal, Dewi, Mba Rina dan Mas Tafrican. PB kali ini dilakukan di Hutan Lindung Gunung Ungaran. Kegiatan ini dilakukan pada tanggal 6 februari 2016 hingga 14 februari 2016. Penelitian Bersama dilakukan di dua tempat, yaitu petak 8A dan 10A. Untuk 8A berlokasi di Desa Kemawi, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah dan untuk lokasi 10A berada di Desa Kalisidi, Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Kedua hutan tersebut merupakan hutan lindung yang kawasannya masuk ke dalam kawasan hutan Perhutani.




            Pada penelitian bersama, dalam melakukan pengambilan data digunakan teknik line transect. Metode ini dilakukan dengan cara berjalan perlahan di sepanjang jalur (line) yang sudah diletakkan di dalam petak yang termasuk hutan Lindung di Gunung Ungaran. Terdapat 13 jalur pengamatan yang tersebar, 6 jalur pada petak 8A dan 7 jalur di petak 10 A. Jarak antar jalur sebesar 500 m dan panjang jalur 1 km. Namun pada kenyataannya dikarenakan medan dan topografi yang tidak sesuai dengan harapan maka kami memutuskan untuk mengubah teknik yang kami gunakan menjadi teknik recewalk.



            Pada hari pertama, kami melakukan survei lapangan pada pukul 5 hingga matahari terbenam. Saat survei kami menemukan seekor lutung jawa atau Trachypithecus auratus. Setelah itu kami kembali ke camp yaitu barak tentara yang berada pada Desa Kemawi. setelah sampai camp kami berdiskusi mengenai apa yang akan kami lakukan diesok hari, setelah itu kami beristirahat untuk menyiapkan tenaga esok hari. Keesokan harinya sebelum beraktifitas kami sarapan terlebih dahulu dan menyiapkan segala kebutuhan yang akan digunakan di lapangan. Saat dilapangan kami menemukan kesulitan medan karena topografi terlalu curam dan itu tidak bisa dilewati karena terlalu banyak resiko. Dari kegiatan penelitian di petak 8A kami hanya menemukan tiga jenis mamalia yaitu Trachypithecus auratus, Muntiacus muntjak, Sus scrofa, Callosciurus notatus, Paradoxurus hermaphroditus. Setelah melakukan kegiatan penelitian di petak 8A kami berpindah ke Desa Kalisidi, Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah yang merupakan petak 10A dari Perhutani. Di petak tersebut kami menemukan Sus scrofa, Callosciurus notatus, Trachypithecus auratus, Nannosciurus melanotis, Callosciurus nigrovittatus, Ratufa bicolor. Selain itu, selama pengamatan lapangan dijumpai jenis mamalia lain dari ordo Chiroptera (Kelelawar), Rodentia (Tikus) dan salah satu spesies dari Famili Canidae (Anjing). Namun mamalia tersebut tidak dimasukkan ke dalam data karena tidak berhasil teridentifikasi spesiesnya karena perjumpaan yang terjadi merupakan perjumpaan tidak langsung, yaitu berupa feses dan jejak dari satwa tersebut. Dari satwa-satwa yang ditemukan terdapat beberapa jenis yang memiliki status Least concern, Vulnerable, Near threatened sehingga perlu dilakukan tindakan konservasi supaya keberadaan satwa tersebut tidak punah.


Jumat, 02 Desember 2016

Primata dan Manusia, apa bedanya?

Tak seperti biasanya, pada saat itu ruang 2 gedung A yang berada di lantai 3 Fakultas Kehutanan UGM, pada pukul 15:30 masih terdapat aktivitas mahasiswa yang menyebabkan ruang 2 menjadi lebih ramai dari biasanya. Penyebabnya adalah adanya kegiatan pematerian ruang KP3 Primata yang di sampaikan oleh mas Ryan Adi Satria yang merupakan alumni KSDH 2009 dan sekarang sedang menempuh studi S2 di Pascasarjana Fakultas Kehutanan. Mas Ryan berbagi pengetahuannya mengenai jenis-jenis primata, kali ini pematerian ruang dihadiri oleh 20 mahasiswa, tak hanya dari Fakultas Kehutanan saja tetapi diikuti mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Hewan dan Fakultas Teknologi Pertanian.

                Pada saat pematerian, mas Ryan menerangkan bahwa primata memiliki ciri-ciri yang hampir sama seperti manusia, ciri-ciri umum primata adalah pengembangan penglihatan binokular/stereoskopis, spesialisasi menggenggam, dan pembesaran volume otak,. Klasifikasi primata sendiri yaitu, primata masuk ke dalam Animalia,  Filum Chordata, Kelas Mammalia, dan Ordo Primates (Linnaeus, 1758).
Primata terbagi ke dalam dua golongan yaitu Prosimian dan Simian. Pada prosimian primata yang masuk ke dalamnya adalah kukang, tarsius, dan lemur. Kukang (Famili Lorisidae) yang ada di Indonesia diantaranya yaitu spesies Kukang besar (Nycticebus coucang) dan Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) sedangkan lemur (Famili Lemuridae) iantaranya jenis  Lemur ekor cincin (Lemur catta) dan tarsius (Famili Tarsiidae) dengan spesies Tarsius Sulawesi/Binatang hantu (Tarsius tarsier), Tarsius Kerdil/Tangkasi (Tarsius pumilus), Tarsius Dian (Tarsius dentatus), Tarsius Sangihe (Tarsius sangirensis) dan Tarsius Bangka (Tarsius bancanus). Sedangkan untuk simian dibagi menjadi tiga, yaitu monyet dunia lama, monyet dunia baru, dan kera. Pada jenis monyet dunia baru terdapat White-headed capuchin (Cebus capucinus), Black-headed spider monkey (Ateles fusciceps), Common marmoset (Callithrix jacchus) dan  Golden lion tamarin (Leontopithecus rosalia). Lalu pada monyet dunia lama terdapat jenis Macaca fascicularis, Macaca nemestrina, Macaca nigra dan jenis macaca yang lainnya, lalu ada Trachypithecus auratus, Presbytis fredericae atau Presbytis comata lalu Nasalis larvatus, Simias concolor dan masih banyak lagi. Dan yang terakhir yaitu jenis kera yang terdiri dari kera kecil dan kera besar. Contoh jenis kera kecil sendiri adalah  Hylobates klossii, Hylobates lar, Hylobates moloch, dan Symphalangus syndactylus, lalu jenis yang terakhir yaitu kera besar dibagi menjadi dua Famili Pongidae dan Famili Hominidae. Jenis yang termasuk Pongidae antara lain adalah Pongo pygmaeus dan Pongo abelii, sedangkan untuk Hominidae ada gorila, simpanse, dan manusia sendiri. 
Dari karakteristik morfologi yang dimiliki manusia dengan hewan primata lainnya tidak terdapat perbedaan yang siginifikan, pertanyaannya adalah, apakah sebenarnya yang membedakan kita (manusia) dengan primata atau satwa lainnya, jika morfologi kita tidak jauh berbeda dan mereka pun memiliki “akal” untuk melangsungkan hidupnya?